Rabu, 09 Oktober 2013

Kasih ibu

Pernah denger cerita, dulu sahabat aq lupa siapa nama beliau, tanya kepada Rosululloh saw.

Wahai Rosululloh,,
Aku ingin membalas kasih ibuku yg kini telah cacat tak bisa berjalan.
Maka aku haji kan ibuku dan aku gendong tiap putaran thowafnya dan di tiap sa'i nya.
Apakah sudah bisa membalas kasih sayangnya dan jasa atas ku??

Rosul pun menjawab:
Demi Alloh!
satu hentak nafas pun tak kan sebanding, saat dimana ibumu bertaruh nyawa untuk melahirkanmu..

Subhaanalloh,,
Sugguh begitu mulia seorang ibu dihadapan Alloh dan Rosul Nya..

Yaa, itu lah yg ku ingat,
Idul fitri tahun kemarin, ba'da sholat ied. Ibu mengambilkanku sarapan, juga buat adik dan bapak. Mas dan mbak ngambil sarapannya sendiri.

Bapak, mas, adik, dan mbak berurutan menyelesaikan sarapan masing". Aku masih sibuk dg nasi yg tadi ku tambah karena masih terasa lapar. Ku liat mbak lalu mas keduanya bergantian sungkeman dg ibu bapak. Menyusul adik ku menyalami tangan ibu bapak dan meminta maaf.

Aku hanya diam menyaksikan prosesi itu. Dalam diamku, teringat kisah sahabat tadi. Ingat nakalku, ingat aku yg tak bisa dibanggakan. Ingat aku yg sering mengecewakan.

Aku masih duduk sekitar satu meter di samping ibuku. Masih dg piring di samping dan jemari yg ditempeli nasi. Ku panggil, "buuk.."
Ibuku menoleh ke arahku..
Aku tak berani memandangnya,
Tak terasa air mata ini mengucur deras,
Mulut ini terasa kelu, tak ada kata terucap..
Ku dongak kan kepala agar tangisku berhenti, pikirku.
Tapi tangis ini terus mengalir, semakin deras malah.

Ibu menghampiri lalu mendekapku.
"iyaa,, ibuk ngerti.. udah tak maafin."
Ucap ibu dg suara serak. Dari situ, aku tau ia pun menganis.

Maafkan anakmu yg belum bisa dibanggakan, maaf. Jasamu tak terbalaskan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar